Tari Tradisional Indonesia: Nasibmu Kini di Negeri Sendiri

Menjadi orang Indonesia boleh bangga, karena kamu punya beragam adat dan budaya yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah tari tradisional.

Jumlah tari tradisional di Indonesia dalam setiap data yang ditemukan pun berbeda-beda. Ada yang menyebutkan mulai dari puluhan hingga bahkan ribuan.

Tari Tradisional Rantayo Putri
Tari Tradisonal Indonesia, Rantayo Putri dari daerah Surakarta

Hal ini menggambarkan betapa banyaknya jenis tari tradisional di Indonesia. Nah, bagi kamu #DoGeneration yang memiliki talenta menari patut bangga loh! Kenapa? Karena skill yang dimiliki seorang penari itu nggak gampang. Tim HAHO mewawancarai salah satu anak muda yang juga aktif dalam dunia tari Indonesia.

Suasana latihan tari tradisional di sanggar Ayodya Pala
Suasana latihan tari tradisional di sanggar Ayodya Pala (dok. pribadi Chearavika Azwarani)

Chearavika Azwarani, mengaku sangat menyukai tradisi dan budaya Indonesia. Atas dasar itu lah dia serius untuk menekuni tarian Indonesia. Berawal dari keluarga yang selalu mendukung kegiatan tambahan di sekolah, perempuan yang lebih akrab disapa Vika ini akhirnya memilih dunia tari sebagai keahlian utamanya.

Berawal dari Melihat Pertunjukan Seni Tradisional

“Awalnya gue sering nonton pertunjukan di Taman Ismail Marzuki (TIM), seneng banget ngeliat tari tradisionalnya. Tiketnya murah kok, cuma 35 ribu”, ujar Vika. Sejak kecil, perempuan berumur 24 tahun ini selalu mengisi kegiatannya dengan hal-hal positif. Setelah lulus dari kuliahnya, Vika pun mencoba untuk mengasah talenta menarinya ini lebih serius. Hal ini didukung oleh lingkungan sekitarnya, salah satu dosen di kampusnya memberikan saran untuk mengikuti salah satu sanggar tari yang sudah dikenal masyarakat. Sanggar tari Ayodya Pala yang berlokasi di Depok dipilih sebagai tempatnya mengasah skill menari.

Sanggar Tari bukan Sekedar Tempat Berlatih

Cheravika Azwarani berlatih tari tradisional
Chearavika Azwarani berlatih tari tradisional (dok. pribadi Chearavika Azwarani)

Banyak sanggar tari di Jakarta hanya memberikan les tari yang jenisnya terbatas. Sedangkan sanggar tari yang menawarkan banyak jenis tarian daerah masih agak sulit ditemukan. Ayodya Pala adalah sanggar tari yang memberikan latihan tarian nasional dengan jenis yang beragam. Konsepnya seperti kelas, tingkat kesulitan diukur dari jenis tarian yang dipelajari. Semakin tinggi tingkatnya, maka harus lulus dengan tarian tertentu sesuai dengan tingkat kesulitannya.

Sanggar tari pun tak hanya menjadi tempat berlatih, namun menjalin relasi dan menularkan tari tradisonal ke generasi muda lainnya. Semenjak Vika berlatih tari, kini dia dan teman-temannya menjadi pelatih tari di tingkat sekolah SMA hingga kuliah. “Untuk membuat orang mau belajar tari tradisional, butuh strategi. Gue dan temen-temen biasanya pake baju yang anak mall banget, trus kita juga ngomongin DWP, ngomongin hal-hal terbaru yang dekat dengan anak muda”. Nyatanya dengan cara itu membuat anggotanya terus bertambah dari hari ke hari.

 


Baca juga: Mengenal Pertunjukan Seni Teater Tradisional Indonesia


Warga Negara Indonesia vs. Warga Negara Asing

Sering dianggap sebelah mata, Vika mengakui bahwa tari tradisional masih dianggap kuno oleh remaja saat ini. “Pendapat gue, kira-kira 40% remaja yang masih minat dengan tari tradisional. Tapi, banyak juga anak-anak kecil yang berlatih di sanggar tari Ayodya Pala. Hal itu yang bikin gue seneng“, ucap Vika dengan semangat. Namun sayangnya di sanggar tersebut setengah dari remaja yang berlatih adalah warga negara asing. Sebut saja Korea, Jepang, Cina, dan Rusia. Cukup membuat miris, karena justru warga negara asing yang lebih antusias belajar tari.

Kebanggaan Tari Tradisional Tumbuh dari Pertunjukan di Panggung Internasional

Tari Tradisional Indonesia - Sanggar Tari
Latihan tari tradisional di Sanggar Tari Ayodya Pala (dok. pribadi Chearavika Azwarani)

Seringkali diundang oleh Kementerian Luar Negeri Indonesia untuk tampil di negara tetangga, membuat tari tradisional Indonesia mendunia. Hal ini diakui oleh Vika yang pernah diminta kesempatan menari di Spanyol dan New Zealand. “Orang luar banyak yang kagum dengan kostum tari Indonesia. Bahkan, mereka baru tahu kalo Aceh dan Bali terletak di Indonesia. Kita selalu menang predikat “Kostum Terbaik”, karena kostum setiap daerah kan beda-beda, gimana nggak kagum orang-orang bule di sana sama kita? Banyak negara tetangga yang minta dilatih tari Indonesia juga”.

Anggota sanggar tari yang diundang hanya menyediakan visa dan passport. Semua biayanya ditanggung oleh pemerintah. Kostum dan peralatan tari lainnya sudah disiapkan oleh sanggar. Bahkan, ada make-up khusus untuk para penarinya. “Setiap tarian memiliki warna dan bentuk riasan mata yang berbeda-beda. Misalnya untuk Tari Pendet dan untuk jenis tari lainnya tentu riasan matanya harus berbeda, begitu pun warnanya. Jadi, nggak sembarangan”.

Nasib Tari Tradisional Indonesia Ada di Tangan Kita Sendiri

Masih kurangnya antusiasme orang-orang Indonesia untuk melihat pertunjukan tradisional sangat disayangkan. Sebagai contoh, pertunjukan tari sepi pengunjung. Penontonnya pun bisa ditebak bahwa mereka adalah keluarga dari si penari. Padahal harga tiket yang ditawarkan masih dapat dijangkau.

Hal kedua adalah stereotip mengenai tari tradisional yang dianggap kurang keren atau bahkan ketinggalan zaman. “Ada orang yang mau berlatih tari, tapi lingkungan sekitarnya menganggap kalo itu nggak gaul. Akhirnya minder dan cuma berhenti di situ aja.”

Tari tradisional Pakarena
Tari Tradisional Pakarena (sumber: Wikipedia)

Namun, setidaknya masih ada beberapa stasiun televisi swasta maupun nasional yang mengangkat tari tradisional. “Biasanya pihak televisi butuh kita untuk menari di acara ulang tahun mereka”, ucap Vika.

Tak hanya televisi, Vika juga sering mendapatkan tawaran menjadi pelatih di beberapa perusahaan yang memiliki program kompetisi tari tiap tahunnya. Bahkan juga pernah ditawari menjadi pelatih di sebuah hotel ternama yang rutin mengadakan pertunjukan tari tradisonal.

Hingga saat ini pun Vika optimis bahwa banyak cara untuk membuat orang tertarik dengan tarian tradisional Indonesia. Bahkan dia mengubah pandangan bahwa gaul bukan berarti tahu semua tentang musik luar negeri atau ikut kegiatan clubbing. “Pokoknya yang namanya gaul adalah lo bisa melakukan yang orang lain nggak bisa!”, karena menari membutuhkan cinta terhadap budaya Indonesia.


Pokoknya yang namanya gaul adalah lo bisa melakukan yang orang lain nggak bisa!”


Kamu punya talenta yang sama dengan Chearavika Azwarani? Sign up yuk di HAHO.CO.ID, mari sebarkan hal positif dan rasa cinta terhadap budaya negeri sendiri!

Angie Tritantya

Creative Content Writer